Wednesday, December 4, 2013

Sejarah Barong Landung


Berawal dari kisah Bali Kuno, yang menceritakan sebuah Kerajaan Balingkang. Dari sinilah kisah kemunculan Barong Landung dimulai. Ketika itu, seorang raja bernama Sri Jaya Pangus memerintah Kerajaan Balingkang. Pada masa pemerintahannya, kehidupan masyarakat amatlah makmur. Kerajaan tenteram dari segi ketahanan militer hingga perdagangannya. Dari hubungan perdangan inilah rumor tentang kemakmuran kerjaan ini terdengar hingga negeri cina. Para saudagar Cina pun memutuskan datang dan menjalin hubungan pertemanan dengan  kerajaan yang diperintah oleh Sri Jaya Pangus. Dari hubungan ini, lambat laun Sri Jaya Pangus menemukan sorang wanita Cina pujaan hatinya. Wanita ini bernama Kang Ching Wie, putri seorang saudagar Cina yang kaya raya. Raja Balingkang ini akhirnya memutuskan meminang putri saudagar tersebut menjadi permaisurinya. Pinangan sang raja disetujui, hingga digelarlah upacara pernikahan yang amat megah. Seisi kerajaan dan seluruh rakyat ikut bersuka cita merayakannya.
Bertahun-tahun lamanya setelah pernikahan Sri Jaya Pangus dan Kang Cing We, kedua mempelai ini belum juga dikaruniai seorang anak. Ini membawa kesedihan yang amat mendalam pada pihak kerajaan dan seluruh rakyat Kerajaan Balingkang. Keadaan kerajaan saat itu menjadi sangat muram. Hampir tidak pernah diadakan perayaan ataupun acara-acara hiburan oleh kerajaan ataupun masyarakat. Hal-hal yang besifat hura-hura sengaja tidak dilakukan, untuk ikut berbela sungkawa atas kejadian ini. Tertekan dengan apa yang terjadi, akhirnya Raja Sri Jaya Pangus memutuskan pergi meninggalkan Kang Cing We untuk mencari pencerahan. Pertualangan pun dilakukan oleh sang raja, hingga akhirnya membuat sang raja terdampar di sebuah tempat di kaki gunung batur.
Di tempat itu Sri Jaya Pangus memutuskan untuk bermeditasi. Kehadiran sang raja ternyata menarik hati seorang dewi yang menguasai daerah tersebut. Dewi ini bernama Dewi Danu. Ia merupakan dewi penunggu Danau Batur. Ditemani oleh para kerabatnya, sang dewi akhirnya menggoda sang raja yang terbangun dari meditasinya. Raja Kerajaan Balingkang inipun akhirnya tergoda, dan memutuskan menikahi Dewi Danu.
Singkat cerita, bertahun-tahun lamanya menunggu, Kang Cing We menatap kesedihan karena sang suami tidak pernah pulang ke kerajaan. Dari rasa penasarannya, akhirnya permaisuri Kerajaan Balingkang ini memutuskan berpetualang untuk mencari suaminya. Melewati hutan belantara dihadapi, namun perjalanan beliau terhalang oleh angin kencang, beliau berusaha untuk melewatinya, tapi akhirnya Kang Cing We terjatuh di sebuah hutan dan tepat di tempat suaminya terdampar dulu. Di sini akhirnya Kang Cing We bertemu dengan seorang anak yang tidak lain adalah anak dari perkawinan suaminya yaitu Raja Sri Jaya Pangus dan Dewi Danu.
Menjumpai kenyataan itu, Kang Cing We merasa kecewa dan sakit hati, lalu memutuskan untuk menyerang Dewi Danu yang merebut suaminya. Serangan dari Kang Cing We mendapat respon negatif dari Dewi Danu, dan akhinya karena kemarahannya iapun mengeluarkan pasukannya yang berbentuk raksasa dan memporak porandakan pasukan Kang Cing We. Tak tega melihat keadaan istri pertamanya yaitu Kang Cing We, sang raja akhirnya memutuskan untuk melindungi Kang Cing We dari serangan Dewi Danu. Raja menyadari cintanya kepada Kang Cing We tidak akan pernah mati walaupun telah lama meninggalkan permaisurinya tersebut. Melihat Kang Cing We dan Sri Jaya Pangus bersatu, membuat Dewi Danu kecewa. Dalam kecewanya, iapun mengutuk kedua pasangan ini menjadi patung.
Berita tentang berubahnya Sri Jaya Pangus dan Kang Cing We menjadi patung, menyebabkan luka yang sangat mendalam bagi rakyat Kerajaan Balingkang. Kesedihan rakyat ini akhirnya membuat Dewi Danu tersadar telah berbuat kesalahan. Ia pun kemudian datang ke kerajaan tersebut membawa seorang anak yang merupakan anak Sri Jaya Pangus. Dengan kedatangan Sang Dewi, rakyat Balingkang pun memutuskan mengangkat anak dari Sri Jaya Pangus menjadi penerus menggantikan raja. Sang Dewi pun mengingatkan rakyat Balingkang untuk terus menghormati dan mengenang mendiang raja serta permaisurinya. Kedua pasangan ini merupakan sosok seorang pelindung, dimana semasa pemerintahannya Kerajaan Balingkang menjadi makmur, aman dan tenteram. Sri Jaya Pangus dan Kang Cing We juga disimbolkan sebagai pasangan yang memiliki cinta sejati. Untuk selalu mengenang jasa-jasa sang raja, rakyat Balingkang akhirnya memutuskan untuk memanifestasikannya ke dalam sebuah barong. Mengingat Raja Sri Jaya Pangus dan Kang Cing We di kutuk oleh Dewi Danu. Dari patung itulah rakyat Balingkang membuat sepasang arca, sehingga arca inilah sebagai Barong 

BANGAU BERBULU PENDETA


Hari itu, tidak seperti biasanya, si burung bangau tepekur di pinggir telaga yang penuh ikan. Pemangsa ikan itu tampak murung. Biasanya, si leher panjang itu langsung menukik ke tengah telaga, menangkap ikan untuk mangsanya. Tapi hari itu, tidak. Ikan yang biasanya ketakutan, dan segera berhamburan menyelamatkan diri di bawah daun teratai, begitu si bangau datang, kali ini tidak. Sekaligus, mereka merasa heran. Ada apa dengan si cangak (bangau) ?
Seekor kodok hujau sedari tadi bertengger di sebongkah batu, segera tahu, lalu bertanya. “Jro Cangak, ada apa dengan dirimu ? Tidak seperti biasanya, anda tampak suntuk.” Dengan hanya berdiri termenung, terkadang hanya dengan satu kaki, kakinya yang lain di lipatnya ke atas, si burung bangau menjawab dengan tenang.
“Eh, anak – anakku. Mulai hari ini kalian tidak perlu takut padaku. Aku tidak lagi memangsa kalian. Aku sudah memikirkn untuk segera mengakhiri sifat buruk ini. Aku akan memulai hidup dengan mencoba mematuhi perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya. Aku akan lebih berkonsentrasi untuk berbuat baik, sesuai yang diamanatkan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kita harus saling mengahasihi”
Lalu si burung bangau terdiam lagi. Sikapnya dijaga, agar mengesankan kini dia telah berubah, telah benar – benar menjalankan perintah Tuhan. Si bangau telah tampil bak seorang pendeta !
“Kami gembira mendengar pengakuan Tuan,” kata si ikan lele, seolah mewakili teman – temannya,” kami ini semua makhluk bodoh, ijinkan kami berguru pada Tuan, tentang kebajikan.”
Namun, semua itu hanyalah kamuflase belaka. Di hatinya yang terdiam, si burung bangau telah menyusun rencana jahat. Dengan berpura – pura berprilaku bak seorang pendeta, dia bisa dengan leluasa dapat memangsa semua ikan yang ada di telaga itu. Si burung bangau punya rencana buruk dengan penampilan barunya itu.
 “Sangat berat berbuat di jalan Tuhan,” kata burung bangau dengan dimantap – mantapkan dan diyakin – yakinkan.
“Namun, semua itu bisa dipelajari asal ada kemauan yang kuat untuk itu,” kata Si burung bangau lagi.
Si burung bangau tetap menjaga sikapnya agar tampak tenang dan teduh. Para ikan tampak sangat yakin dengan perkataan dan penampilan mutakhir si burung bangau. Si burung bangau sudah berubah menjadi sesosok “pendeta”, pikir meraka. Si burung bangau sangat senang melihat perkembangan itu. Para ikan sudah mulai mempercayainya. Kini, hanya menunggu waktu saja untuk menjalankan rencananya, memangsa banyak ikan. Kali ini, dengan sopan si “pendeta” bangau pamit kepada para ikan dan terbang untuk mencari makan di tempat lain. Sebuah muslihat yang sempurna untuk meyakinkan mangsanya. Sikap “manis” itu diperlihatkan dan dipertahankan Si burung bangau hingga berbulan – bulan, hingga para ikan benar – benar mempercayainya. Suatu hari, pagi – pagi, Si burung bangau datang lagi ke telaga tempat para ikan yang diincarnya itu, hidup. Dengan sikap yang tetap mengesankan ketenangan dan keteduhan, si burung bangau hinggap si seonggok batu di tepi telaga. Suaranya segera dipelankan agar terkesan sedih, prihatin.
“ Aku sedih sekali dengan nasib yang segera menimpa kalian. Tahukah kalian bahwa telaga tempat kalian hidup ini akan segera dikeringkan oleh petani di desa ini. Mereka akan menimbunnya dengan tanah, untuk kemudian ditanami ubi dan sayuran. Aku dengan tanpa sengaja sempat mengintip pembicaaan mereka”.
 “Benarkah?” jawab si katak hijau, “ kalau itu benar – benar terjadi, bukanlah sebuah bencana buat kita semua?”
Tentu saja si bangau sangat senang mendengar jawaban si katak hijau. Memang itulah kemauan si bangau, memperdayai para ikan !.
Sementara itu, si katak hijau, dengan terburu – buru melompat ke tengah telaga, hendak segera mengabarkan berita “buruk” itu kepada para ikan penghuni telaga.
“Benarkah itu Tuan Bangau? ”, mereka bertanya secara berebutan.
 “Tentu saja benar”, jawab si “pendeta bangau”, tetapi aku telah menemukan tempat aman buat kalian. Kita bisa hidup disana. Aku bersedia membawamu secara bergiliran ke tempat itu”
“Terima kasih Tuan Bangau”, jawab para ikan hampir bersamaan.
 Lalu, hari itu si bangau mulai memindahkan ikan – ikan itu. Secara berebutan ikan – ikan itu menjejali paruh si “pendeta” dadakan. Setelah itu, si bangau terbang menuju “telaga impian”. Tentu saja, di paruhnya terselip beberapa ekor ikan yang mampu dibawanya.
Ya, begitulah prosesi pindah itu berlangsung hingga beberapa hari, sampai akhirnya hanya si kepiting yang tertinggal. Karena badannya besar dan punggungnya lebar, si ketam tidak mungkin diangkut dengan paruh bangau yang panjang dan pipih itu. Si kepiting diminta si bangau untuk memegangi lehernya, agar tidak terjatuh.
Setelah lama berputar – putar di udara, si kepiting tidak melihat tanda – tanda sampai ke telaga impian yang telah dijanjikan. Si kepiting mulai curiga akan maksud baik si burung bangau.
“Mana telaga yang kau janjikan?”, Tanya si kepiting. Alangkah terkejutnya si kepiting, ketika si burung bangau mendarat di puncak sebuah gunung. Di sebuah dataran yang cukup luas, si kepiting melihat sisik dan tulang ikan berserakan di sana – sini. Tampaknya, si burung bangau bukan membawa para ikan ke tanah impian, tetapi menyantapnya di sini. Puncak gunung ini bagaikan sebuah ladang pembantaian. Kasihan benar para ikan itu, pikir si kepiting seraya semakin memperkuat jepitannya ke leher si bangau.
 “Jadi engkau elah menipu kami”, bentak si kepiting, teman – teman kami telah kau mangsa dengan licik. “Ya, ini salahku”, jawab si bangau sambil menahan raa sakit lehernya, karena terus dijepit kencang – kencang oleh si kepiting dengan capitnya, “nanti bisa kita bicarakan. Sekarang lepaskan dulu jepitanmu agar aku bisa menjelaskannya”, pinta si bangau lagi.
“Tidak! Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi”, jawab si kepiting dengan geram, “kau harus membayar kematian teman – temanku, dengan kematianmu juga!”
Si kepiting lalu lebih menguatkan jepitannya di leher si “pendeta” bangau itu. Kuat dan semakin kuat. Dengan menahan rasa sakit yang amat sangat, si bangau meregang nyawa. Dan akhirnya mati. Sebuah akhir perjalanan tragis buat si pengkhianat.  


Pesan Moral
Dongeng dari Bali, yang berjudul asli “Pedanda Baka” ini, memberikan pelajaran yang berharga. Semestinya, kita senantiasa waspada terhadap musuh, terlebih – lebih yang tiba – tiba menjadi baik. Pastilah ada maksud tertentu di balik itu. Walaupun itu tidak berarti menghalangi orang untuk kembali ke jalan yang benar. Kewaspadaan yang intens diperlukan. Pengkhianatan selalu berujung pada permusuhan, bahkan hingga berujung pada peperangan. Maka, adalah sesuatu yang nista bila melakukan perbuatan khianat yang nista itu. Terlebih kepada teman sendiri. Memang ada orang yang tega berbuat seperti itu sehingga di tengah masyarakat berkembang istilah sejenis, yaitu musang berbulu ayam ataupun musang berbulu domba.

Anak-Anak Binatang Dalam Bahasa Bali

Panak Bangkung madan Kucit



Panak Sampi madan Godel



Panak Meng madan Tai




Panak Bikul madan Nyinying 




Panak Kambing madan Wiwi




Panak Siap madan pitik




Panak Penyu madan Tukik




Panak Bebek madan Memeri





Panak Jarari madan Bebedag




Panak Cicing madan Kuluk