Wednesday, May 1, 2013

Lagu Bali - Putri Cening Ayu


Putri Cening Ayu adalah salah satu lagu khas daerah Bali, biasanya dinyanyikan oleh anak-anak TK atau SD, berikut lirik lagunya: 


Putri Cening Ayu

Putri Cening Ayu Ngijeng Cening jumah
Meme luas malu Ke peken meb'lanje
Apang ade daharan nasi

Meme tiang ngiring, Nongos ngijeng jumah
Sambilan mekumpul Ajak titiang dadue
Ditekani nyen gap gapin

Pelalian Cening Kotak wadah gerip
Jaje megenepan Ane luwung luwung
Bunge melah melah Ambunane sarwe miyik

Saturday, January 12, 2013

Tradisi Perang Tipat-Bantal di Desa Kapal





Desa Kapal adalah salah satu desa tradisional di Bali yang kaya akan keunikan adat dan budaya, desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Mengwi Badung ini memiliki tradisi yang unik dan menarik yang masih berlangsung hingga sekarang, salah satunya adalah pelaksanaan Tradisi Aci Rah Pengangon atau lebih dikenal oleh masyarakat setempat sebagai tradisi perang tipat-bantal. Tradisi perang tipat kali ini dilangsungkan di depan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Senin (5/10). Turut ikut menyaksikan pada kesempatan tersebut Bupati Badung A.A Gde Agung, Anggota DPRD Badung I Wayan Yasa, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Badung I Made Subawa, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung IB Anom Bhasma, Kakandep Agama Kabupaten Badung IB Subawa, Camat Mengwi I Nyoman Suendi beserta tokoh-tokoh masyarakat desa Kapal.
Dalam tradisi ini masyarakat desa Kapal berkumpul di Pura Desa setempat dimana mereka melaksanakan prosesi persembahyangan yang dilanjutkan dengan menuju ke depan pura dimana mereka membagi diri menjadi dua kelompok, dipersenjatai dengan tipat dan bantal, kedua kelompok ini kemudian saling melempari, mencoba mempertemukan tipat dan bantal ini di udara.
Bendesa Adat Kapal A.A Gede Dharmayasa pada kesempatan tersebut menjelaskan bahwa tradisi perang tipat-bantal ini erat kaitannya dengan kehidupan pertanian masyarakat, sebuah tradisi unik yang dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas kehidupan yang diciptakanNya serta berlimpahnya hasil panen di desa ini. Dimana tradisi ini dilaksanakan setiap setiap Purnama Kapat, atau pada saat purnama bulan keempat dalam penanggalan Bali (sasih kapat) sekitar bulan September – Oktober yang pelaksanaanya diwujutkan dalam bentuk perang tipat-bantal.
Keberadaan tradisi perang tipat-bantal ini banyak dijelaskan dalam catatan-catatan sejarah kuno berupa lontar-lontar, salah satunya terdapat dalam lontar tabuh rah pengangon milik salah seorang warga desa Kapal, ketut sudarsana, dalam lontar tersebut secara singkat dijelaskan pada tahun isaka 1260 atau pada tahun 1338 masehi, Raja Bali Asta Sura Ratna Bhumi Banten mengutus patihnya Ki Kebo Iwa untuk merestorasi Candi Khayangan Purusada yang ada di Desa Kapal. Setibanya di desa Kapal Ki Kebo Iwa melihat Desa Kapal sedang dilanda paceklik panen, risau melihat hal tersebut kemudian Ki Kebo Iwa memohon jalan keluar kepada sang pencipta dengan melakukan yoga semedi. Saat melakukan yoga semedi beliau mendapatkan sabdha dari pencipta untuk melaksanakan Aci Rah Pengangon atau Aci Rare Angon dengan sarana menghaturkan tipat dan bantal sebagai symbol purusha dan predhana/sumber kehidupan, karena penyebab dari segala paceklik tersebut adalah ketiadaan sumber kehidupan. Dalam sabdha ini pula diperoleh agar masyarakat Kapal tidak menjual tipat karena tipat merupakan simbolisasi dari predhana/ibu pertiwi. Akhirnya setelah dilaksanakan Aci Rah Pengangon di Desa Kapal, Desa ini kembali makmur dan tenteram. Dari hal inilah berkembang tradisi perang tipat-bantal di Desa Kapal.

TRADISI MEKOTEK


Upacara Mekotek dilaksanakan dengan tujuanmemohon keselamatan. Upacara yang juga di kenaldengan istilah ngerebek. Mekotek ini adalah warisan leluhur, adat budaya dan tradisi yang secara turun temurun terus dilakukan umat Hindu di Bali.
Pada awalnya pelaksanaan upacara Mekotek diselenggarakan untuk menyambut armada perang yang melintas di Munggu yang akan berangkat ke medan laga, juga penyambutan pasukan saat mendapat kemenangan perang Blambangan pada masa kerajaan silam.
Dahulunya upacara ini menggunakan tombak yang terbuat dari besi. Namun seiring perkembangan zaman dan untuk menghindari peserta yang terluka maka sejak tahun 1948 tombak besi mulai diganti dengan tombak dari bahan kayu pulet. Tombak yang asli dilestarikan dan disimpan di pura.
Mekotek sendiri diambil dari kata tek-tek yang merupakan bunyi kayu yang diadu satu sama lain sehingga menimbulkan bunyi.
Perayaan upacara Mekotek selalu dilakukan oleh warga Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, pada setiap Hari Raya Kuningan. Selain sebagai simbol kemenangan,Mekotek juga merupakan upaya untuk menolak bala yang pernah menimpa desa puluhan tahun lalu.
Pada saat itu Perayaan upacara Mekotek dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda 1915 (Ida Bagus Gede Mahadewa) karena takut terjadi pemberontakan, namun akibat dari larangan tidak boleh mengadakan upacara Mekotek tersebut muncul wabah penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan banyak memakan korban jiwa. Lalu terjadi perundingan dan akhirnya diizinkan kembali, sejak saat itu tidak pernah ada lagi bencana.  
Upacara  ini Makotek ini diikuti sekitar 2000 penduduk Munggu yang terdiri dari 15 banjar turun ke jalan dari umur 12 tahun hingga 60 tahun. Mereka mengenakan pakaian adat madya dengan hanya mengenakan kancut dan udeng batik dan membawa selonjoran kayu 2 meter yang telah dikuliti. Pada tengah hari seluruh peserta berkumpul di pura Dalem Munggu yang memanjang. Disana dilakukan upacara syukuran bahwa selama 6 bulan pertanian perkebunan dan segala usaha penduduk berlangsung dengan baik, setelah serangkaian upacara berlangsung, keseluruhan peserta melakukan pawai menuju ke sumber air yang ada di bagian utara kampung. Warga kemudian terbagi dalam beberapa kelompok . Di setiap pertigaan yang dilewati masing masing kelompok yang terdiri dari 50 orang akan membuat bentuk segitiga menggabungkan kayu-kayu tersebut hingga berbentuk kerucut lalu mereka berputar, berjingkrak dengan iringan gamelan. Pada saat yang tepat seorang yang dianggap punya nyali sekaligus punya kaul akan mendaki puncak piramid dan melakukan atraksi entah mengangkat tongkatnya atau berdiri dengan mengepalkan tangan, sambil berteriak laksana panglima perang  mengkomamdoi prajuritnya untuk terus menerjang musuh lalu kemudian ditabrakkan dengan kelompok yang mendirikan tumpukan kayu yang lain. Sesampai di sumber air, tameng suci, segala perangkat upacara yang dibawa dari Pura Dalem diberi tirta air suci dan dibersihkan. Kemudian mereka melakukan pawai kembali ke Pura Dalem untuk menyimpan semua perangkat yang dibawa berkeliling tadi.
Ini adalah suatu aktraksi adat budaya yang saat menarik untuk anda saksikan,yang hanya ada di Bali pulau Dewata

Friday, October 19, 2012

Keterangan Keluarga

Peseng tiange Baiq Putri Syahidna, biasanne semeton-semeton tiang ngaukin tiang Putri. Titiang mangkin kelas 1 SMA ring Dyatmika. Dumum titiang TK ring TK Bakti, SD ring Tumbuh Kembang, lan SMP ring Cipta Dharma. Titiang medue 4 anggota keluarga: 




Niki Bapa tiang mapesengan Lalu Satria Budi Surya Dharma, biasanne ngaukin Dharma/Surya. Bapa tiang makarya ring businessman. 




Niki Ibu tiang mapesengan Sarita Donoseputro, biasanne ngaukin Sarita. Ibu tiang makarya ring griya antuk ngaryanin kue. 




Tiang medue adi istri mapesangan Baiq Almira Syarifa, biasanne ngaukin Mira, mangkin kelas 1 SMP ring Albana. 




Lan niki adi lanang mapesangan Lalu Satria Syuja Makarim, biasanne ngaukin Syuja, mangkin kelas 3 SD ring Albana. 

Thursday, October 18, 2012

PUPUH GINADA


Pupuh ginada wantah silih tunggil tembang alit utawi sekar alit. Pupuh niki maduwe ciri kaiket antuk aturan (pada lingsa) makadi akeh baris ring tiap baitne (pada) inggih punika 8 besik. Sampun kenten akehne suku kata ring tiap-tiap baris (carik) lan suaran untat tiap-tiap baris inggih punika, 8a 8i 8a 8u 8a 4i 8a. Minab sampun wenten contone ring posting tiang sane dumunan. Niki mangkin malih tiang ngicen contone. Iseng cingak tiang ring buku tugas adin tiange wenten conto-contone:


Pupuh Ginada
1.            Titiang melajah ngae tipat

Ngantos titiang ngulangunin

Kewehe mekudang-kudang

Besik dua nganti telu

Meme bapa ketakonang

Keweh gati
Ento patut kaplajahang.
2.            Mai timpale makejang

Melajah matembang bali

Tembang bali ne budaya

Warisan para leluhur

Patut raga lestariang

Tembang bali

Ento patut keajegang.
3.            Janintitiang maan tugas 

Tugas sane miweh gati 

Sawireh tusing biyasa

Kajudi makarya pupuh

Sinom utawi ginada 

Dados milih

Nanging teteptusing bias.
4.            Liu anak ngulah-ulah

Keto mase sedeng paling

Melajahe kesaratang

Ape ane sedeng ruruh

Melajah ngalih sawitra

Yan besidi 

Ape ruruh lakar bakat.
5.            Ene madan karma laksana
        Sajeroning kantun maurip 

        Jele melah pengelaksana

        Ento neket diraga tuhu

        Bekelan kayang kawekas

        Bin numadi

        Pangde nemu kesengsaran

Tradisi Perang Pandan di Tenganan, Karangasem




Perang Pandan adalah upacara persembahan yang dilakukan untuk menghormati Dewa Indra (dewa perang) dan para leluhur. Perang Pandan disebut juga mekare-kare. Kegiatan upacara ritual ini diadakan tiap tahun bulan juni di Desa Tenganan, yang terletak di 70 km timur Denpasar Bali lebih kurang 70 menit menggunakan kendaraan bermotor, desa ini masuk salah satu desa tua di Bali, desa ini disebut Bali Aga. Lokasi desa ini dikelilingi bukit, sementara bentuk desa sendiri seperti layak nya sebuah benteng yang hanya mempunyai empat pintu masuk dengan sistim penjagaan,sehingga lebih memudahkan untuk tahu siapa saja yang datang dan pergi dari desa tersebut.

Kepercayaan yang dianut warga desa Tenganan berbeda dengan warga Bali pada umumnya. Warga desa Tenganan mempunyai aturan tertulis atau awig-awig yang secara turun temurun diwariskan oleh nenek moyang mereka,juga tidak mengenal kasta dan diyakini Dewa Indra adalah dewa dari segala dewa. Dewa Indra adalah dewa perang. Menurut sejarahnya Tenganan adalah hadiah dari Dewa Indra pada wong peneges, leluhur desa Tenganan. Sementara Umat Hindu Bali pada umumnya menjadikan Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa sebagai dewa tertinggi.

Konon menurut cerita, pada zaman dahulu kawasan Tenganan dan sekitarnya diperintah oleh seorang raja bernama Maya Denawa yang lalim dan kejam, ia bahkan menjadikan dirinya sebagai Tuhan dan melarang orang Bali melakukan ritual keagamaan, mendengar itu para dewa di surga pun murka, lalu para dewa mengutus Dewa Indra untuk menyadarkan atau membinasakan Maya Denawa, dengan cara mengangkat Dewa Indra sebagai panglima perang atau pemimpim pertempuran. Melalui pertempuran sengit dan memakan korban jiwa yang tidak sedikit, akhir nya Maya Denawa dapat kalahkan.

Upacara Perang Pandan/Mekare kare ini diadakan 2 hari dan diselenggarakan 1 sekali dalam setahun pada sasih kalima (bulan kelima pada kalender Bali) dan merupakan bagian dari upacara Sasih Sembah yaitu upacara keagamaan terbesar di Desa Tenganan.Tempat pelaksanaan upacara Mekare-kare ini adalah didepan balai pertemuan yang ada di halaman desa. Waktu pelaksanaan biasanya dimulai jam 2 sore dimana semua warga menggunakan pakaian adat Tenganan (kain tenun Pegringsingan), untuk para pria hanya menggunakan sarung (kamen), selendang (saput), dan ikat kepala (udeng) tanpa baju, bertelanjang dada.

Perlengkapan Perang ini adalah pandan berduri diikat menjadi satu berbentuk sebuah gada, sementara untuk perisai yang terbuat dari rotan. Setiap pria (mulai naik remaja) didesa ini wajib ikut dalam pelaksanaan Perang Pandan, panggung berukuran sekitar 5 x 5 meter persegi itu. Dengan tinggi sekitar 1 meter, tanpa tali pengaman mengelilingi.

Sebelum Perang Pandan dimulai,diawali dengan ritual upacara mengelilingi desa untuk memohon keselamatan,lalu diadakan ritual minum tuak, tuak dalam di bambu dituangkan ke daun pisang yang berfungsi seperti gelas. Peserta perang saling menuangkan tuak itu ke daun pisang peserta lain. Kemudian tuak tersebut dikumpulkan menjadi satu dan dibuang kesamping panggung.

Saat upacara Perang Pandan akan dimulai, Mangku Widia pemimpin adat di Desa Tenganan memberi aba-aba dengan suaranya, lalu dua pemuda bersiap-siap. Mereka berhadap-hadapan dengan seikat daun pandan di tangan kanan dan perisai terbuat dari anyaman rotan di tangan kiri. Penengah layaknya wasit berdiri di antara dua pemuda ini.

Setelah penengah mengangkat tangan tinggi-tinggi, dua pemuda itu saling menyerang. Mereka memukul punggung lawan dengan cara merangkulnya terlebih dulu. Mereka berpelukan. Saling memukul punggung lawan dengan daun pandan itu lalu menggeretnya. Karena itu ritual ini disebut pula megeret pandan. Peserta perang yang lain bersorak memberi semangat. Gamelan ditabuh dengan tempo cepat. Dua pemuda itu saling berangkulan dan memukul hingga jatuh. Penengah memisahkan keduanya dibantu pemedek yang lain.

Pertandingan ini tidak berlangsung lama. Kurang dari satu menit bahkan. Selesai satu pertandingan langsung disambung pertandingan yang lain, Ini dilakukan bergilir (lebih kurang selama 3 jam).

Seusai upacara tersebut semua luka gores diobati dengan ramuan tradisional berbahan kunyit yang konon sangat ampuh untuk menyembuhkan luka. Tidak ada sorot mata sedih bahkan tangisan pada saat itu karena mereka semua melakukannya dengan iklas dan gembira. Tradisi ini adalah bagian dari ritual pemujaan masyarakat Tenganan kepada Dewa Indra, dewa perang yang dihormati dengan darah lewat upacara perang pandan, dilakukan tanpa rasa dendam, atau bahkan dengan senyum ceria, meski harus saling melukai dengan duri pandan.

Setelah Perang Pandan selesai kemudian ditutup dengan bersembahyangan di Pura setempat dilengkapi dengan mempersembahkan/menghaturkan tari Rejang.

Adat istiadat harus kita junjung tinggi karena merupakan citra diri juga melambangkan harga diri akan suatu negeri. Adat istiadat jangan sampai hilang agar orang tahu dari mana kita berasal. Bali pulau dewata menampilkan berbagai macam keindahan.